Sabtu, 07 Mei 2011

Hak dan Kewajiban Suami Istri

BAB 1
PENDAHULUAN
A.         Latar Belakang
Dalam islam pernikahan merupakan suatu aqad (perjanjian) yang diberkahi antara seorang laki-laki dan seorang wanita, yang dengannya dihalal bagi keduanya hal-hal yang sebelumnya diharamkan. Dengan pernikahan itu keduanya mengarungi safari kehidupan panjang, yang di warnai dengan rasa cinta dan kasih, saling tolong – menolong, saling pengertian dan penuh toleransi, masing-masing saling memberikan ketenangan bagi yang lainny, sehingga dalam perjalanan safarinya itu keduanya mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kenikmatan hidup. Seperti gambaran yang diberikan Al-Qur’an :
“Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya itu adalah dia telah menciptakan bagi kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian kasih dan saying. Sesungguhnyai  pada demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum berfikir.” (Ar-Rum:21).
            Demikian itu hubungan Robbani sangat erat dan kuat, yang dikatakan oleh  Allah antara dua jiwa suami istri. Kemudian mereka membangun sebuah keluarga yang menjadi tempat tumbuhnya anak, tempat terbukanya akal pikiran, mencetak akhlakul-karimah. Karena keluarga merupakan fondasi bagi bangunan masyarakat yang anggota-anggotanya sangat produktif dan kontruktif, yang selalu tolang menolong dalam hal kebaikan dan ketakwaan, dan selalu berlomba-lomba dalam berbuat amal salih

B.         Rumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah kali ini akan dibahas tentang Hak dan Kewajiban Suami Istri, antara lain:
  1. Hak dan Kewajiban Suami Istri
  2. Hak dan Kewajiban Suami terhadap Istri
  3. Kewajiban Istri terhadap Suami

BAB II
PEMBAHASAN

A.         Hak dan Kewajiban Suami Istri
Apabila aqad nikah telah berlangsung dan syah memenuhi syarat rukunnya, maka akan menimbulkan akibat hukum. Dengan demikian, akan menimbulkan pula hak dan kewajibannya selaku suami istri dalam keluarga. Jika suami istri sama-sama menjalankan  tanggung jawabnya masing-masing, maka akan terwujudlah ketentraman dan ketenangan hati, sehingga sempurnalah kebahagiaan hidup berumah tangga.  Dengan demikian, tujuan hidup berkeluarga akan terwujud sesuai dengan tuntutan agama yaitu: sakinah, mawaddah wa rahmah.
1.            Hak Bersama Suami Istri
a.       Suami istri dihalalkan saling bergaul mengadakan hubungan seksual. Perbuatan ini merupakan kebutuhan bersama suami istri yang dihalalkan secara timbale balik. Jadi, bagi suami halal berbuat kepada istrinya, sebagaimana istri kepada suaminya.
b.      Hak saling mendapat waris akibat dari ikatan perkawinan sah, bilamana salah seorang meninggal dunia sesudah sempurnya  ikatan perkawinan; yang lain dapat mewarisi hartanya sekalipun belum pernah berhubungan seksual.
c.       Kedua belah pihak wajib bergaul (berprilaku) yang baik, sehingga dapat melahirkan kemesraan dan kedamaian hidup. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah:


“… dan pergaulilah mereka( isrti ) dengan baik … (An-Nisa: 19)
2.            Kewajiban Suami Istri.
Dalam komplimasi hokum islam, kewajiban suami istri dijelaskan sebagai berikut:
                                                            Pasal 77
  1. Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.
  2. Suami istri wajib saling mencintai, hormat-menghaormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.
  3. Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani dan rohani maupun kecerdasannya dan pendidikan agamanya.
  4. Suami istri wajib memelihara kehormatanya.
  5. Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya, masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama.
Pasal 78
1.      Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap
2.      Rumah kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) ditentukan oleh suami istri bersama.

B.         Hak dan Kewajiban Suami terhadap Istri.
1.           Hak Suami atas Istri.
Hak suami terhadap istrinya yaitu:
  1. Ditaati dalam hal-hal yang tidak maksiat. Kewajiban taat kepada suami hanyalah dalam hal-hal yang dibenarkan agama, bukan dalam hal kemaksiatan kepada Allah SWT. Jika suami menyuruh istri untuk berbuat maksiat, maka si istri harus menolaknya. Diantara ketaatan istri kepada suami adalah tidak keluar rumah, kecuali dengan seizin suami. Rasulullah SaW menegaskan “Hak suami terhadap istrinya adalah tidak menghalangi permintaan suaminya kapadanya sekalipun di atas punggung unta, tidak berpuasa walaupun sehari saja selain dengan izinya, kecuali puasa wajib. Jika ia tetap berpuasa, ia berdosa dan puasanya tidak di terima. Ia tidak boleh memberikan sesuatu dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika ia memberinya maka pahalanya bagi suaminya dan dosanya  untuk dirinya sendiri. Ia tidak keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya kecuali dengan izin suaminya. Jika ia berbuat demikian maka Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya sampai tobat dan pulang kembali sekalipun suaminya itu zalim.
  2. Istri menjaga  dirinya sendiri dan harta suami. Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 34 dijelaskan bahwa istri harus bisa menjaga dirinya, baik ketika berada di depan suami maupun di belakangnya, dan ini merupakan salah satu ciri istri yang salihah.


“sebab itu maka wanita shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri di balik pembelakangan suaminya oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…
Maksud memelihara diri dibalik pembelakangan suaminya dalam ayat tersebut adalah istri dalam menjaga dirinya ketika suaminya tidak ada dan tidak berbuat khianat kepadanya, baik mengenai diri maupun harta bendanya.
  1. Menjauhkan diri dari mencampuri sesuatu yang dapat menyusahkan suami.
  2. Tidak bermuka masam di hadapan suami.
  3. Tidak menunjukkan keadaan yang tidak di senangi suami.

2.            Kewajiban Suami terhadap Istri.
Kewajiban seorang laki-laki (suami) atas diri wanita (istrinya) terhadap sesuatu dari keutamaan yang ada pada diri keduanya. Sesungguhnya menjalankan tanggung jawab atau kewajiban dengan baik itu akan dapat menyelesaikan banyak masalah yang terjadi antara suami dan istri. Seorang suami merupakan pemimpin dalam rumah tangganya. Allah SWT berfirman:

kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain(wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”.(An-Nisa 34)
Ayat diatas menunjukkan kepada satu peraturan dari berbagai peraturan yang telah ditetapkan, yaitu kepemimpinan laki-laki (suami) terhadap wanita (istrinya). Allah menempatkan hikmah-Nya dalam hal ini, agar menjadi jelas dua kenyataan, bahwa fitrah suami berbeda dengan fitrah istri.
Dan kepemimpinan seorang suami merupakan tanggung jawab atas kemampuannya dalam mengendalikan segala apa yang dipimpinnya dan mampu menanggung beban yang terberat sekalipun, seperti memberikan nafkah serta perlindungan. Karena seorang laki-laki melebihi wanita dalam segi kekuatan fisik, kekuatan berfikir, keberanian didalam mempersiapkan perjuangan keluar dari berbagai kesulitan, mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan zhahir bagi kehidupan keluarga,mempertahankan harga diri dan menolak segal bentuk ancaman serta mara bahaya. Sebab lain yang memdasari laki-laki atas kepemimpinananya adalah, bahwa laki-laki bertanggung jawab dalam urusan mencari nafkah. Karena dirinyalah yang lebih berkewajiban untuk berusaha, sesuai dengan potensi dasar yang diberikan kepadanya.   Untuk itu, tanggung jawab disini merupakan pembebanan dan bukan sebagai suatu kehormatan. Yaitu, beban yang harus di tanggung oleh pihak yang mampu untuk tidak berbuat sewenang-wenang. 
Dalam komplimasi Hukum Islam, kewajiban suami terhadap istri dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
                                                            Pasal 80
  1. Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama.
  2. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segal sesuatu keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuanya.
  3. Suami wajib memberi pendidikan agama kepada istrinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, dan bangsa.
  4. Sesuai dengan penghasilannya, suami menanggung;
a.       Nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi istri
b.      Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak.
c.       Biaya pendidikan bagi anak.
  1. Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut pada ayat (4) huruf a dan b di atas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari istrinya.
  2. Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya sebagiamana tersebut pada ayat (4) huruf a dan b.
  3. Kewajiban suami sebagaimana yang dimaksud ayat (2) gugur apabila istri nusyuz.
Pasal 81
Tentang Tempat Kediaman
  1. Suami  wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-anaknya, atau bekas isrtinya yang masih dalam ‘iddah.
  2. Tempat kediaman adalah tempat tinggal yang layak untuk istri selama dalam ikatan perkawinan, atau dalam’iddah talak atau ‘iddah wafat.
  3. Tempat kediaman disediakan untuk melindungi istri dan anak-anaknya dari pihak lain, sehingga mereka merasa anman dan tentram. Tempat kediaman juga berfungsi sebagai penyimpan harta kekayaan, sebagai tempat menata dan mengatur alat-alat rumah tangga.
  4. Suami wajib melengkapi tempat kediaman sesuai dengan kemampuanya serta di sesuaikan dengan keadaan lingkungan tempat tinggalnya, baik berupa alat perlengkapan rumah tangga maupun sarana penunjang lainya.
Pasal 82
Kewajiban Suami yang Beristri Lebih dari Seorang
  1. Suami yang mempunyai istri lebih dari seorang berkewajiban memberi tempat tinggal dan biaya hidup kepada masing-masing istri secara berimbang menurut besar kecilnya keluarga yang di tanggung masing-masing isrti, kecuali jika ada perjanjian perkawinan.
  2. Dalam hal para istri rela dan ikhlas, suami dapat menempatkan istrinya dalam satu tempat kediaman.
C.         Kewajiban Istri terhadap Suami
Wanita shalihah adalah tiang keluarga, penyangganya yang sangat kuat, sekaligusperhiasan pertama bagi kehidupan orang laki-laki, bahkan ia merupakan perhiasan terbaik dalam kehidupan ini, seperti yang disabdakan Rasulullah SaW:
Dunia ini perhiasan, dan sebaik-baik perhiasanya adalah wanita shalihah”.(HR.Muslim)
Wanita shalihah adalah nikmat Allah SWT terbesar bagi oarng laki-laki, dimana dia akan merasa tenang padanya dari hiruknya kehidupan dan dari cengkramannya. Di sisinya diakan mendapatkan ketentraman, kebahagiaan, ketenangan dan kenikmatan yang tidak dapat dikalahkan oleh kenikmatan hidup lainnya.
Untuk menjadi seorang wanita bisa menjadi perhiasan terbaik dalam kehidupan ini, menjadi seorang istri yang berhasil dan mencapai kedudukan tinggi, dibanggakan dan disayang. Maka seorang istri yang itu harus bisa menjalankan kewajibannya dengan baik.
Kewajiban istri terhadap suaminya yaitu:
a.       Taat dan patuh pada suami. Seorang istri yang senantiasa menjalankan ajaran agamanya akan selalu mentaati suaminya, tanpa sedikitpun membantahnya, berbakti kepadanya, dan berusaha untuk mencari keridhaanya serta memberikan kebahagiaan pada dirinya, meskipun dia hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Diantara bentuk ketaatan dan bakti seorang istri kepada suaminya adalah pemenuhan keinginan khusus suaminya. Seperti bersenang- senang menikmati kehidupan suami istri sesempurna mungkin dan maksimal. Bahwa seorang istri yang jujur akan senantiasa mengurus rumah dan suaminya, karena dia mengetahui hak suaminya atas dirinya, suatu hak yang sangat besar. Seperti yang ditekankan
oleh Rasullah SaW melalui sabdanya berikut:

Tidak boleh seseorang sujud kepada orang lain. Seandainya diperbolehkan seseorang sujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami ats dirinya”.
Aisyah RA. Pernah bertanya kepada Rasulullah SaW:

“Siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita? Rasulullah menjawab,’Suaminya!’ Selanjutnya Aisyah bertanya, ‘Lantas siapakah yang paling besar haknya atas seorang laki-laki?’ beliau menjawab, ibunya!”
Jadi seorang istri yang benar memahami ajaran agamanya dengan kesadaran dan ketaatan kepada suaminya maka dapat memasukkannya kedalam surga.
b.      Berusaha memperoleh kasih sanyang suami dan ridhanya. Seorang istri yang cerdas senantiasa berusaha untyk mendapatkan kasih saying suaminya dan sekaligus menjagaagar suaminya selalu bahagia dan terus menerus memberikan keridahaan kepadanya, hidup dalam keleluasaan, dan kebahagiaanya tidak dikeruhkan oleh tindakan-tindakan yang kurang berkenan. Yaitu dengan cara melontarkan kata-kata yang baik dan menggembirakan hati sang suami.
c.       Menghormati dan berbakti kepada ibu mertua. Diantara bentuk bakti seorang istri pada suaminya adalah memuliakan, menghormati dan menghargai ibunya. Yang demikian itu karena seorang istri yang sadar dan memahami petunjuk agamanya mengetahui bahwa manusia yang besar haknya atas orang laki-laki adalah ibunya. Sebagaimana dalam hadist Umul-Mukminin Aisyah RA”Di mana wanita muslimah akan selalu membantu suaminya untuk memuliakan dan berbakti kepada ibunya”. Dengan demikianitu dia telah berbuat baik bagi dirinya sendiri dan bagi suaminya, saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan serta amal shalih yang diperintahkan oleh Al-Qur’an. Pada saat yang sama dia menjadi wanita yang sangat dicintai oleh sang suami kerena penghormatan dan baktinya pada keluarga sang suami, khususnya ibu mertua, karena sesungguhnya tidak ada yang lebih menyejukkan hati yang berbakti selain dia dapat melihat terjalinnya ikatan tali cinta kasih, penghormatan, pemuliaan, dan hubungan yang mesra antara istri dengan keluarganya(suami).
d.       Kewajiban untuk berhemat. Allah SWT berfirman:    


Makan dan minumlah kalian, akan tetapi jaganlah berlebih-lebihan”.(Al-A’raf 31)



Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula berlaku kikir. Adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah, Yaitu diantara keduanya”.(Al-Furqan 67)
Bahwasaanya makruh hukumnya menumpuk dan menambah segala sesuatu secara berlebih-lebihan. Disamping itu, juga memberikan petunjuk bagi mereka yang memang membutuhkanuntuk membeli natau menyimpan barang secukupnya. Jika sampai apa yang tersedia berlebiihan, maka itu juga bagian dari syaitan untuk mengenakannya. Kerena, perbuatan seperti itu akan menyebabkan timbulnya sifat sombong dan ingin dipuji.
e.       Menarik hati suami. Sebagai seorang istri harus bisa bagaiman cara menarik hati suaminya, karena apabila dia tidak mengetahui bagaiman cara menarik hati suaminya niscaya dia akan menjadi penyebab kebosanan, penyelewengan, dan kekeruhan hati suaminya. Dan Rasulullah menekankan dalam sebuah hadist yang artinya:”diantara kebahagiaan anak adam itu ada tiga, demikian juga dengan kesengsaraannya, juga ada tiga. Diantar kebahagiaan anak adam itu adalah: wanita shalihah, timpat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Sedangkan tiga kesengsaraannya adalah: wanita buruk(tidak shalih), tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk”.
Atas dasar itu, pergaulan yang baik oleh seorang istri kepada suaminya serta kepandaiannya menarik hati suaminya merupakan bagian dari ajaran agama, karena hal itu akan menjadikan suami terjaga dan bersih dari penyelewengan, di samping dapat memperkuat tiang keluarga dan mewujudkan kesejahteraan bagi dirinya sendiri, suami dan anak-anaknya.
f.        Senantiasa berhias untuk suami. Agama Islam telah mengajarkan kepada wanita agar selalu berhias dan berdandan bagi suaminya, di mana dia akan selalu melihatnya dalam keadaan cantik dan menyenangkan.
g.       Menyambut suami dengan mesra dan menyenangkan. Di antara sifat yang menjadikan wanita muslimah semakin cantik dimata suaminya adalah ceria, riang, gembira dan ramah tamah, yang harus menggenangi kehidupan suaminya, sehinggga dapat hidup sejahtera. Dan ketika suaminya pulang ke rumah dalam keadaan letih sehabis kerja, atau setelah mengerahkan pikirannya, dia akan menyambutnya dengan wajah ceria, senyum, kata-kata yang menyenangkan yang dapat melenyapkan keletihannya dan melupakan beban pikirannya, supaya dengan demikian itu dia dapat hidup bahagia, tenang dan penuh kegembiraan.
h.       Mewujudkan ketenangan, kesenangan, dan kebahagian pada suami. Sebagai seorang istri juga senantiasa berusaha mewujudkan ketenangan, kesenangan, dan kebahagiaan di rumah, sebagaimana dia berusaha untuk selalu untuk memperhatikan rumah bersih dan teratur kepada suaminya, supaya suaminya dapat menyaksikan kedisiplinan dan kerapian, putra-putrinya yang terdidik baik, berakhlak mulia, dan bersih, juga melihat meja makan yang indah dan hal-hal lain yang senantiasa menjadi perhatian wanita cerdas. Demikian itu merupakan wujud pergaulan yang baik dari seorang istri kepada suaminya yang diajarkan oleh islam.
Dalam komplimasi Hukum Islam, kewajiban istri terhadap suami dijelaskan sebagai berikut:
                                                            Pasal 83
Kewajiban Istri
  1. Kewajiban utama bagi seorang istri ialah berbakti lahir batin kepada suami didalam batas-batas yang dibenarkan oleh hokum Islam.
  2. Istri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan sebaik-baiknya.

Pasal 84
  1. Istri dapat diaggap nusyuz jika ia tidak mau melaksanakan kewajiban-kewajiban, sebagaimana dimaksud dalam pasal 83 ayat (1), kecuali dengan alasan yang sah.
  2. Selama istri dalam nusyuz, kewajiban suami terhadap istrinya tersebut pada pasal 80 ayat (4) huruf a dan b tidak berlaku kecuali hal-hal untuk kepentingan anaknya.
  3. Kewajiban suami tersebut pada ayat (2) diatas berlaku kembali sesudah istri tidak nusyuz.
  4. Ketentuan ada atau tidak adanya nusyuz dari istri hanya di dasarkan atas bukti yang sah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Perkawinan dalam islam merupakan ikatan antara dua jiwa yang paling kuat yang disambungkan oleh Allah supaya keduanya menumukan ketenangan, kebahagiaan, ketentraman, dan kenikmatan yang halal lagi baik dengan terpenuhinya suatu hak dan kewajiban dalam rumah tangga.
            Rumah tangga yang bahagia, yang berdiri dijalin diatas rasa kasih saying dan keikhlasan antar individunya didalam menunaikan kewajiban, dengan disertai perasaan ridha serta tidak menggerutu akan dapat menciptakan kerukunan, kedamaian dan keselarasan.
            Adapun hak dan kewajiban suami istri itu meliputi:
  1. Hak dan kewajiban suami istri yang meliputi:
    • Hak bersama suami istri.
    • Kewajiban suami istri.
  2. Hak dan kewajiban suami terhadap istri yang meliputi:
    • Hak suami atas isrti.
    • Kewajiban suami terhadap istri.
  3. Kewajiban istri terhadap suami.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Al-Hasyimy,Muhammad. Jatidiri Wanita Muslimah, Jakarta,  Pustaka Al-Kautsar, 1997
Al-Istanbuli, Mahmud Mahdi. Kado Perkawinan, Jakarta, Pustaka Azzam, 2000
Rahman Ghazaly,Abd. Fiqih Munakahat, Jakarta, Kencana Prenada Media Graup, 2006

0 komentar:


Poskan Komentar

Komentar anda sangat berarti bagi kami untuk membagun blog ini kedepannya, trimaksih sebelumnya

 
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Pengikut

Site Info

SEO Stats powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net http://Link-exchange.comxa.com Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Ping your blog, website, or RSS feed for Free Kostenlose Backlinks bei http://www.backlink-clever.de